MEMILIH CHILDFREE, SIAPKAH PASANGAN DENGAN STIGMA SOSIAL?

Istilah childfree (kondisi tidak ingin memiliki anak) belakangan ini menjadi perbincangan hangat Netizen di media sosial, Bagi masyarakat Indonesia itu layaknya hal yang tabu, tidak heran jika banyak pro kontra dari masyarakat tentang sepasang suami istri yang tidak menginginkan anak di kehidupan pernikahan mereka.

Memiliki keturunan atau anak adalah salah satu tujuan dari sebuah pernikahan. Saya pribadi melihat itu adalah hak mereka dalam mengambil keputusan, hanya saja kita yang berada didaerah beradat berbudaya dan mayoritas beragama Islam di Indonesia melihat keputusan mereka memang sedikit mengernyitkan dahi. Bagi seorang pemeluk agama Islam, keuntungan memiliki anak yang saleh/saleha memiliki implikasi akhirat. Artinya, Amalan anak akan senantiasa berkolerasi dengan kedua orang tuanya walaupun sang orang tua telah wafat. Jika sang anak banyak melakukan kebaikan atau mendoakan orang tuanya maka amal dari kebaikannya juga merupakan amal orang tuanya dan insyaAllah doanya akan segera terkabul oleh Allah SWT.

Dikutip dari situs NUONLINE, pentingnya memiliki keturunan dalam pernikahan pun telah tergambar dari sabda Nabi SAW tentang anjuran menikah dengan wanita yang subur dan sabda Nabi SAW tentang anak saleh/saleha adalah investasi akhirat yang tidak terputus meski orang tuanya telah wafat. Imam Al-Ghazali memaparkan :

وفى التواصل الى الولد قربة من اربعة وجوه هي الاصل فى الترغيب فيه عند امن من غوائل الشهوة حتى لم يحب احد ان يلقي الله عزبا الاول موافقة الله بالسعي فى تحصيل الولد الثانى طلب محبة الرسول صلى الله عليه وسلم في تكثير من به مباهته الثالث طلب التبرك بدعاء ولد الصالح بعده الرابع طلب الشفاعة بموت الولد الصغير اذا مات قبله

“Upaya untuk memiliki keturunan (menikah) menjadi sebuah ibadah dari empat sisi. Keempat sisi tersebut menjadi alasan pokok dianjurkannya menikah ketika seseorang aman dari gangguan syahwat sehingga tida ada seseorang yang senang bertemu dengan Allah dalam keadaan jomblo atau tidak menikah. Pertama, mencari ridha Allah dengan menghasilkan keturunan. Kedua, mencari cinta Nabi saw dengan memperbanyak populasi manusia yang dibanggakan. Ketiga, berharap berkah dari doa anak saleh setelah dirinya meninggal. Keempat, mengharap syafaat sebab meninggalnya anak kecil yang mendahuluinya.” (Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmiddin, (Jeddah, al-Haramain:), juz II, halaman 25)

Keputusan untuk tidak memiliki anak (childrenfree) dalam pernikahan memang sangat personal. Namun, perlu sangat dipertimbangkan dengan kemungkinan munculnya dampak seperti stigma negatif dari masyarakat maupun keluarga sendiri. Stigma tersebut akan membuka kesempatan timbulnya tekanan sosial dan juga bisa saja terjadi kekerasan verbal seperti gunjingan dan tuduhan dari keluarga, rekan kerja, dan tetangga sekitar. Prasangka dan tuduhan pun beragam, mulai dari anggapan pasangan yang tidak subur, permasalahan kesehatan seksual, bahkan sampai dengan anggapan ketidakharmonisan dengan pasangan.

Baca juga : DEMOKRAT BERKOALISI DENGAN RAKYAT “MUDA ADALAH KEKUATAN”

Tumpukan stigma negatif seperti itu bisa berpengaruh pada hilangnya rasa hormat dan pengucipan dari masyarakat, juga konsekuensi dari dalam keluarga sendiri, biasanya akan lebih banyak menimpa perempuan yang membuat keputusan tidak ingin punya anak. Kemudian timbul permasalahan, baik dari mertua, keluarga bahkan suaminya sendiri. Hal itu yang kemudian bisa berakibat pada tidak stabilnya pernikahan pasangan tersebut. Ada yang takut poligami, juga ada yang mengkhawatirkan perceraian. Sejatinya, dalam menjalani pernikahan memang perlu direncanakan segala sesuatunya secara matang untuk visi dan misi menjalin hubungan pernikahan dan membentuk keluarga yang harmonis serta sejahtera.

Disisi lain, terdapat fakta menarik bahwasanya orang-orang yang memilih untuk childfreebkarena masih berhubungan dengan kondisi pandemi saat ini. Faktanya memang pandeii meningkatkan tekanan yang sebelumnya sudah dirasakan oleh para orang tua. Banyak orang tua yang berpikir kembali untuk memiliki anak setelah adanya pandemi yang membuat kenyataan semakin jelas. Untuk problem yang ini kita kembali kepada keyakinan masing-masing orang, telah dijelaskan bahwa rejeki sudah diatur oleh yang kuasa pun tidak akan tertukar, jadi saya sampaikan untuk tidak khawatir  soal ekonomi ataupun baik buruknya keturunan kita dan soal apapun yang berkaitan dengan keturunan. Allah Mahakuasa, tidak akan luput satu zat pun di muka bumi ini dari kuasa Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *